|
“Happiness only real when shared”
Kutipan di atas baru aja gue dapet sore tadi dari film besutan Sean Penn, “Into The Wild”. Sontak gue langsung teringat dengan acara buka bersama alumni SMA gue di Panti Sosial Cibalagung, Sabtu 28 Agustus 2010. Di sana, selain memberikan santunan, kita berbagi pengalaman dan memotivasi adik-adik yang ada di panti asuhan tersebut supaya mereka memiliki semangat untuk terus maju. Perwakilan pertama dari kami untuk berbagi pengalamanya yakni Elang Gumilang. Seorang pemuda dengan jejeran penghargaan bergengsi dan perusahaannya di bidang property yang sudah mendirikan 8 perumahan di 8 lokasi berbeda. Elang menuturkan pengalamannya langkah demi langkah bagaimana ia bisa mencapai ke tingkat yang sekarang ini. Dimulai dari jualan donat dengan Rustiyono yang juga teman kami (tidak bisa hadir), hingga mendapatkan proyek pertamanya di bidang property senilai 1,6M. Sekarang Elang sudah berkeluarga. Selanjutnya SMUNSA 2003 itu punya salah satu “calon musisi” yang hingga saat ini belum mendapatkan “panggung” nya sendiri, Irhan Andifa namanya. Tapi jangan salah, Ayah satu anak ini semangatnya tak pernah pudar untuk dapat mencapai impiannya, menjadi seorang musisi pop. Sedari masih bercelana biru (SMP) Irhan sudah sering “ngeband” dengan teman-teman. Nama band nya sering gonta-ganti, begitu juga dengan personilnya. Setiap Irhan mau naik pentas, dia selalu mengirimkan sms ke gue. Sampai suatu saat gue pun datang ke acara dimana band Irhan tersebut manggung. Alangkah kagetnya gue, ternyata itu bukan panggung, tapi sebuah warung kecil di pinggir jalan yang disulap oleh Irhan dan teman-temannya menjadi sebuah panggung pertunjukkan. Gila, gue gak nyangka semangat Irhan dan teman-temannya sampai sebegitu besar. Baru-baru ini, Irhan dan “Everyday People” nya berhasil masuk ke 15 besar LA Light Indiefest. Hadir sebagai Juri, yakni Tora Sudiro yang menyebut suara Irhan sama Fals-nya (sumbang) dengan suara Tora. Tapi Irhan menceritakan itu dengan warna muka yang jauh dari wajah penuh amarah. Disitu gue liat bagaimana keikhlasan seorang Irhan dalam mengejar impian dan cita-citanya. Dan gue selalu bilang sama Irhan gak bosen-bosen, “Someday Han, Someday…” Lalu ada Abbi Angkasa Perdana. Suami dari Rena Sarah, ayah dari Ashraff ini merupakan seorang Dokter yang juga berprofesi sebagai Pengusaha di bidang IT. Abbi bercerita, lulus SMA orang tuanya melepas Abbi untuk hidup mandiri. Di situ Abbi mulai meraba-raba dunia wirausaha. Pada awalnya dia hanya bermodalkan kartu nama dengan logo yang sama dengan sebuah toko di salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Jakarta. Langkah demi langkah dijalaninya dengan sabar dan penuh perhitungan. Hingga saat ini Abbi dan Rena sudah mampu menghidupi kurang lebih 50 karyawan. Selain wirausaha dan anak band, kemarin ada Maesfri yang juga berbagi mengenai seluk beluk pekerjaannya di bidang hitung menghitung. Maes yang berprofesi sebagai Auditor di salah satu kantor akuntan publik, menceritakan pengalamannya sebagai auditor yang menghitung neraca keuangan suatu perusahaan. Kebetulan, salah satu anak panti disitu sangat tertarik, Habibah namanya, dia sedang menempuh pendidikan di sekolah kejuruan Akuntansi. Kemudian ada Radityo Anugrah, teman kita yang berprofesi sebagai Dokter dan mendapat beasiswa S2 dari Gubernur Jawa Barat. Didit, sapaan akrabnya, berbagi cerita bagaimana langkah-langkah untuk menjadi seorang dokter dan bagaimana cara memperoleh beasiswa. Didit juga menceritakan kebiasaanya yang ia sering lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya, yakni berbicara dengan dirinya sendiri di hadapan cermin. Terakhir, ada Harun Al Rasyid. Temen kita yang menjadi pengusaha di bidang impor daging sapi dan peternakan domba yang menceritakan pengalamannya sambil diselingi humor-humor segar. Harun mencoba menceritakan bagaimana ia harus berjuang mendapatkan beasiswa untuk kuliah karena keadaan ekonomi keluarganya yang mendesak Harun supaya mandiri. Justru dengan pengalaman itulah, Harun termotivasi dan tak pernah putus asa untuk terus mencoba meraih cita-citanya. Saat ini Harun sudah menikah dan dikaruniai 1 puteri. Tidak ada yang percuma ketika kita memiliki niat tulus untuk berbagi. Walaupun mereka anak yatim-piatu, tapi gue yakin mereka masih punya semangat untuk maju dan mereka sangat berhak untuk memiliki impian dan cita-citanya sendiri. Tugas kita hanya berbagi pengalaman, supaya mereka nantinya memiliki bekal wawasan pengetahuan ke depan. Tugas kita hanya berbagi cerita, supaya mereka memiliki motivasi yang mampu membakar semangat dan menumbuhkan tingkat percaya diri mereka untuk selalu maju dan lebih maju lagi. Tugas kita hanya berbagi “peta” kehidupan yang sudah lebih dulu kita rasakan, supaya mereka tidak tersesat ketika melangkah mengejar mimpinya. Tugas kita hanya berbagi. Tugas kita mudah bukan? Selanjutnya, tugas mereka lah untuk menentukan dirinya untuk terus maju atau berdiam diri menerima keadaan. Itu kembali kepada niat serta usaha mereka masing-masing. Yang terpenting, mereka punya “bekal” wawasan pengetahuan dan semangat untuk mengarungi samudera kehidupan. “….Nothing to help you but your hands and your own head..” Primo Levi -Bear Meat- (quoted from “Into The Wild” movie) Walaupun tidak semua dari kami bisa berbagi cerita atau pengalamannya dikarenakan waktu yang sangat sedikit. Namun insyaallah kebaikan teman-teman semua mendapat ganjaran setimpal dari Allah SWT. You guys rock! TUGAS KITA BELUM SELESAI SAMPAI DISINI! God Bless You All! 29 Agustus 2010 Cheers, Dicky Septriadi |